Jumat, 11 Februari 2011

Indonesia Dulu dan Sekarang

http://2.bp.blogspot.com/_LBUrBZzTb8I/SsT5Rv7l6fI/AAAAAAAAABc/DQOWaDv1mkg/s320/gambar+Garuda+dan+Bhinneka+tunggal+ika+(200x217).jpg 
Negeri kita merupakan salah satu negara yang paling majemuk di dunia. Dihuni oleh ratusan kelompok etnik dan kaya akan bahasa serta kebudayaan daerah.


Jika dirangkum secara keseluruhan, kemajemukan masyarakat Indonesia ditandai oleh kemajemukan suku bangsa dan bahasa(sekitar 250 dialek), agama (Budha, Hindu, Islam, Katoloik, Konghucu, Protestan dll), kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (sekitar 400 aliran), sistem hukum (nasional, agama, adat), sistem kekerabatan, dan sistem perkawinan(monogami dan poligami).
Jumlah pulau yang amat banyak, suku-suku dengan bahasa, budaya, (termasuk di dalamnya budaya spiritual), adat-istiadat dan agama-agama serta kepercayaan yang berbeda-beda seperti di lukiskan di atas, menampilkan kekayaan Indonesia yang sesungguhnya tidak ternilai harganya. Keragaman satu sama lainnya saling berbeda, inilah yang membedakan Indonesia dengan negara-negara yang lain. Kita sangat kaya dengan keragaman. Inilah yang sebenarnya harus kita banggakan dari negara kita.

Memasuki perjalanan 65 tahun kemerdekaan Indonesia dan 102 tahun kebangkitan nasional ini, bangsa kita ternyata masih menyisakan berbagai persoalan yang memperihatinkan. Selain mengalami krisis keteladanan dan rawannya perpecahan akibat sikap kedaerahan maupun kelompok atau individu-individu, juga nyaris tidak ada lagi yang bisa di banggakan untuk mengakui diri sebagai orang Indonesia. Padahal, semestinya perjalanan 65 tahun kemerdekaan Indonesia sudah bisa membawa bangsa kita ke arah kemajuan dalam bingkai persatuan yang kokoh dan kuat. Para pendiri bangsa kita dulu seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Jendral Sudirman dan lain-lain adalah ornag-orang yang layak kita sebut pahlawan sekaligus negarawan. Mereka berhasil menyatukan kita semua yang berbeda-beda suku, bahasa, agama, dan adat-istiadat, ke dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sudah sepatutnyalah kita sebagai bangsa melakukan introspeksi dan evaluasi diri. Apa yang menyebabkan bangsa kita rasanya makin terpuruk seperi sekarang ini.
Jika kita menengok ke belakang di era tahun 1908 atau sebelum Indonesia merdeka, di bawah berbagai tekanan, para pemuda dan rakyat Indonesia pada waktu itu bisa menjadi pelopor perjuangan. Hal ini sangat berbeda dengan saat ini. Memang kita tidak bisa membandingkan begitu saja dari era tahun 1908 atau sebelum Indonesia merdeka dengan sekarang. Namun, pada masa itu para pemuda dan Rakyat Indonesia yang tergerak hati dengat semangatnya bersatu padu melawan penjajah. Ada yang berjuang melalui parang fisik dan ada juga melalui organisasi dan pemikiran. Dan akhirnya di tahun 1945 kita bisa memproklamasikan kemerdekaan.
Para pendiri bangsa kita dulu seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Jendral Sudirman dan lain-lain adalah ornag-orang yang layak kita sebut pahlawan sekaligus negarawan. Mereka berhasil menyatukan kita semua yang berbeda-beda suku, bahasa, agama, dan adat-istiadat, ke dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kini, kondisi negara kita sudah lain. Penilaian terhadap Indonesia selalu negatif, dan tidak menguntungkan. Bicara Indonesia, orang langsung teringat bom Bali, Indonesia nagara terkorup ketiga, dan sebagainya. Pertikaian dan kerusuhan antar kelompok jadi sering terjadi. Keadaan sosial ekonomi makin sulit.
Nah, kini sudah menjadi tanggung jawab dan tugas kita untuk bersatu padu mencerdaskan bangsa menuju Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera. Untuk itulah kita harus membangitkan kembali semangat kebangkitan yang kedua. Kita juga harus mengobarkan dan menyebarkan kembali semangat ke-Indonesiaan. Kita harus pula menghargai apa yang ada dan berasal dari negeri kita sendiri.
Apa yang kita butuhkan untuk menumbuhkan kesadaran dan membangkitkan rasa kebersamaan, tanggung jawab, termasuk dalam membangun kesejahteraan bangsa ini?
Kesadaran itu mula-mula harus tumbuh dari diri kita sendiri, dari keluarga kita sendiri, bagaimana kita menghargai diri kita, dan bagaimana kita menghargai orang lain. Kita harus menghargai orang lain seperti kita menghargai diri kita sendiri. Tentunya kita juga harus menjadikan masa lalu itu sebagai cermin untuk evaluasi. Dulu kita punya sesuatu yang kita banggakan. Sekarang harus bisa kita banggakan kembali. Kalau dulu kita sangat kuat akan peresatuan baik pulau-pulau yang ada maupun kehidupan bermasyarakatnya, maka kita harus mengembalikannya kembali seperti dulu. Kita tidak perlu menkotak-kotakan, biarkan kita tetap kokoh kuat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Oleh: Zac Antonius Efron
Judul asli: Indonesia Dulu dan Sekarang


(sumber : http://www.rnw.nl) lintasberita
Indonesia Dulu dan SekarangSocialTwist Tell-a-Friend

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

The Most Populer